Kamis, 05 Mei 2011

pengertian

Qada adalah keputusan yang sudah ada sebelum adanya dunia
Qadar adalah keputusan Allah setelah manusia dilahirkan
Qadar bersifat lebih dulu keberadaannya dan qadar bersifat baru atau kemudian. Ungkapan iman kepada qada dan qadar sering disebut iman kepada takdir yang bermakna mempercayai secara sungguh-sungguh terhadap segala ketentuan dan ketetapan Allah yang berlaku bagi semua ciptanNya. Ketentuan tersebut adalah baik yang telah terjadi, sedang terjadi, akan terjadi.
Percaya kepada takdir Allah hendaknya dipahami dan diyakini dengan hati-hati dan didasari dengan iman yang kukuh, pengetahuan yang luas, dan ikhlas sehingga tidak menimbulkan pemahaman yang salah atau terhindar dari akidah yang menyesatkan. Disamping itu, iman kepada takdir tidak boleh menimbulkan sikap malas bekerja, apatis, acuh tak acuh, dan tidak mau berusaha. Kesalahan memahami takdir akan menimbulkan anggapan bahwa manusia itu ibarat robot sehingga tidak mempunyai daya kekuatan dan kekuasaan sedikit pun.


idak percaya pada salah satu rukun iman, orang itu disebut….
a. kafir
b. fasik
c. zalim
d. mukmin naqis
e. mukmin kamil
10. Ahlus Sunah Wal Jama’ah berpendapat bahwa manusia dalam hidupnya…
a. bagaikan pelaku sandiwara
b. terpaksa menjalankan ketentuan Allah
c. bebas memilih, tetapi terikat oleh takdir
d. mempunyai kebebasan mutlak
e. serba terikat
11. Dalam Al Qur’an surat An-Nisa ayat 65 kata qada diartikan sebagai….
a. ukuran
b. keadilan
c. hukum
d. kemampuan
e. ikhlas
12. Iman kepada qada dan qadar berfungsi untuk ….
a. membina sikap mental kekerasan
b. menambah sifat berani
c. menimbulkan sifat optimis, giat bekerja dan tawakkal
d. membuat hati gelisah
e. membina sikap mental keperkasaan
13. Bencana yang menimpa manusia di dunia dan telah ditetapkan oleh Allah sebelumnya tercantum dalam Al Qur’an surat….
a. Al Hadid ayat 22
b. Ali Imran ayat 47
c. Fussilat ayat 10
d. Al Ahzab ayat 21
e. Al Ahzab ayat 38
14. Allah swt berfirman: ” sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka berusaha …..” lanjutan dari firman Allah itu….
a. mengubahnya sendiri
b. menjadi orang yang bertaqwa
c. dengan sekuat tenaga
d. sambil berdo’a
e. mempelajari ilmu pengetahuan yang berguna
15. Berikut ini termasuk manfaat iman kepada qada dan qadar, kecuali…
a. Memperkuat keyakinan bahwa Allah pencipta alam semesta
b. Orang akan berbangga hati karena usahanya behasil
c. Meninktakan ketaqwaan kepada Allah
d. Menumbuhkan prilaku terpuji
e. Mendorong manusia lebih semangat dalam berusaha
16. Berusaha disertai do’a dan berserah diri kepada Allah tentang berhasil atau tidaknya suatu usaha disebut…
a. ikhtiar
b. qada
c. qadar
d. takdir
e. tawakkal
17. Berikut ini adalah usaha yang harus di tempuh agar berhasil, kecuali…
a. Menguasai bidang usaha
b. Berusaha dengan sungguh-sungguh
c. Niat ikhlas karena Allah
d. Berusaha dengan modal yang besar
e. Berdo’a agar memperoleh pertolongan
18. Berikut ini adalah hikmah tawakkal, kecuali….
a. dicintai Allah
b. dianugerahi rezeki yang cukup
c. ada ketentraman hidup
d. menumbuhkan sikap terpuji
e. disenangi orang banyak
19. Takdir yang diobah dengan cara ikhtiar disebut…
a. takdir mubram
b. takdir muallaq
c. qadar
d. qada
e. takdir azali
20. Berserah diri kepad Allah, setelah berikhtiar sekuat mungkin sesuai dengan kewajibannya. Hal ini di sebut…
a. takabbur
b. tumakninah
c. iffah
d. tawakkal
e. qanaah
ESSAY.
  1. Yang dimaksud dengan qadha menurut bahasa ialah …….
  2. Yang dimaksud dengan qadar menurut bahasa ialah….
  3. Hubungan antara qadha dan qadar bagaikan hubungan antara ………….. dan ……….
  4. Qadha dan qadar disebut juga …………..
  5. Memperyai qadha dan qadar hukumnya ……
  6. Jelaskan pengertia qadha menurut istilah !
  7. dan jelaskan pula pengertian qadar menurut istilah!
  8. sebutkanlah hikmah beriman kepada qadha dan qadar!
  9. Mengapa kita harus berusaha?
  10. Samakah takdir dengan penyerahan tanpa usaha? Jelaskan pendapatmu!



PENGERTIAN AKIDAH SERTA IMAN KEPADA QADA DAN QADAR

Posted by agung supriyadi ⋅ September 16, 2009 ⋅ 2 Komentar
PENGERTIAN AKIDAH SERTA IMAN KEPADA QADA DAN QADAR
Akidah berasal dari kata ‘aqada-ya’qidu-‘aqdan yang berarti simpul, ikatan, dan perjanjian yang kokoh dan kuat.  Selanjutnya akidah sering disebut sebagai ‘aqidatan yang berarti kepercayaan atau keyakinan.  Oleh karena itu, kaitan antara ‘aqdan dan ‘aqidatan adalah bahwa keyakinan itu tersimpul dan tertambat dengan kokoh dalam hati, bersifat mengikat, dan mengandung perjanjian.
Sedangkan arti akidah secara etimologi adalah ikatan atau sangkutan.  Disebut demikian, karena ia mengikat dan menjadi sangkutan atau tempat bergantung bagi segala sesuatu.  Ikatan akidah tidak boleh dibandingkan dengan ikatan jasmani yang dilihat secara zahir karena akidah merupakan satu ikatan rohani yang kukuh dan abstrak antara Pencipta dan makhluk ciptaan-Nya.  Sedangkan pengertian akidah menurut istilah adalah keyakinan hati dan pembenaran terhadap sesuatu.
Dalam pengertian teknis, akidah berarti iman atau keyakinan.  Maka dari itu, akidah dikaitkan dengan rukun iman yang menjadi asas seluruh ajaran Islam sehingga kedudukan akidah dalam Islam adalah sangat sentral dan fundamental.  Akidah juga berarti janji. Maksudnya ialah akidah merupakan janji kita pada Allah SWT.  Jika akidah kita luntur, berarti luntur pula janji kita pada Allah SWT.  Oleh karena itu, kita harus selalu memegang teguh akidah sebagai perwujudan janji kepada Allah SWT.
Di sisi lain, pengertian akidah juga dapat ditinjau secara terminologis, seperti diungkapkan oleh Hasan al-Banna dalam Majmu ‘ar-Rasaail, yakni :
“Aqaid (bentuk jamak dari ‘aqidah) adalah beberapa perkara yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati, mendatangkan ketenteraman jiwa, menjadi keyakinan yang tidak tercampur sedikitpun dengan keragu-raguan.”
Selain itu, Abu Bakar Al-jazairi dalam kitab ‘Aqidah al-Mukmin, menyatakan bahwa :
“Aqidah adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara mudah oleh manusia berdasarkan akal, wahyu (yang didengar), dan fitrah.  Kebenaran itu dipatrikan dalam hati dan ditolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu.”
Allah berfirman dalam surat Al Hajj ayat 54 :
Arti : Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al-Quran itulah yang hak dari Rabbmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.
Seperti yang telah disebutkan di atas, akidah ditautkan dengan Rukun Iman sebagai pokok-pokok ajaran Islam.  Rukun Iman ada enam, yaitu :
  1. Iman kepada Allah SWT
  2. Iman kepada malaikat-malaikat
  3. Iman kepada kitab-kitab Allah
  4. Iman kepada para rasul
  5. Iman kepada hari kiamat
  6. Iman kepada qada dan qadar
Firman Allah yang menegaskan hal tersebut terdapat dalam Al Qur’an surat Al Kahfi ayat 29, yakni :
Arti : Dan katakanlah: Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.
Allah juga berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 285 sebagai berikut :
Arti : Rasul telah beriman kepada Al-Quran yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya, dan mereka mengatakan: Kami dengar dan kami taat. (Mereka berdoa): Ampunilah kami ya Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.
Dalam pembahasan kali ini, hanya akan dibahas mengenai iman kepada qada dan qadar.  Beriman kepada qada dan qadar merupakan salah satu rukun iman di mana kita wajib mengimaninya agar iman kita menjadi sah dan sempurna.  Ibnu Abbas pernah berkata, “Qadar adalah nidzam (aturan) tauhid. Barangsiapa yang mentauhidkan Allah dan beriman kepada qadar, maka tauhidnya sempurna. Dan barangsiapa yang mentauhidkan Allah dan mendustakan qadar, maka dustanya merusakkan tauhidnya” (Majmu’ Fataawa Syeikh Al-Islam).
Sebelum membahas lebih lanjut mengenai iman kepada qada dan qadar, terlebih dahulu akan dibahas mengenai qada dan qadar itu sendiri.  Qada menurut bahasa berarti hukum, perintah, memberikan, menghendaki, dan menjadikan.  Sedangkan qadar berarti batasan atau menetapkan ukuran.
Secara etimologi, qada dapat diartikan sebagai pemutusan, perintah, dan pemberitaan.  Imam az-Zuhri berkata, “Qadha secara etimologi memiliki arti yang banyak. Dan semua pengertian yang berkaitan dengan qadha kembali kepada makna kesempurnaan….” (An-Nihayat fii Ghariib al-Hadits, Ibnu Al-Atsir).  Sedangkan qadar berasal dari kata qaddara, yuqaddiru, taqdiiran yang berarti penentuan.
Dari sudut terminologi, qadha adalah pengetahuan yang lampau, yang telah ditetapkan oleh Allah SWT pada zaman azali. Adapun qadar adalah terjadinya suatu ciptaan yang sesuai dengan penetapan (qadha).  Sedangkan arti terminologis qada dan qadar menurut Ar-Ragib ialah :
”Qadar ialah menentukan batas (ukuran) sebuah rancangan; seperti besar dan umur alam semesta, lamanya siang dan malam, anatomi dan fisiologi makhluk nabati dan hewani, dan lain-lain; sedang qada ialah menetapkan rancangan tersebut.”
Atau secara sederhana, qada dapat diartikan sebagai ketetapan Allah yang telah ditetapkan tetapi tidak kita ketahui.  Sedangkan qadar ialah ketetapan Allah yang telah terbukti dan diketahui sudah terjadi.  Dapat pula dikatakan bahwa qada adalah ketentuan atau ketetapan, sedangkan qadar adalah ukuran.  Dengan demikian yang dimaksud dengan qada dan qadar atau takdir adalah ketentuan atau ketetapan Allah menurut ukuran atau norma tertentu.
Firman Allah mengenai qada dan qadar terdapat dalam surat Al Ahzab ayat 36, yaitu :
Arti : Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mumin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mumin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.
Selain itu, Allah juga berfirman dalam surat Al Qamar ayat 49, yakni :
Arti : Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.
Beriman kepada qada dan qadar berarti mengimani rukun-rukunnya.  Iman kepada qada dan qadar memiliki empat rukun, antara lain :
  • Ilmu Allah SWT
Beriman kepada qada dan qadar berarti harus beriman kepada Ilmu Allah yang merupakan deretan sifat-sifat-Nya sejak azali.  Allah mengetahui segala sesuatu.  Tidak ada makhluk sekecil apa pun di langit dan di bumi ini yang tidak Dia ketahui.  Dia mengetahui seluruh makhluk-Nya sebelum mereka diciptakan. Dia juga mengetahui kondisi dan hal-hal yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi di masa yang akan datang.
  • Penulisan Takdir
Sebagai mukmin, kita harus percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi, baik di masa lampau, masa kini, maupun masa yang akan datang, semuanya telah dicatat dalam Lauh Mahfuzh dan tidak ada sesuatu pun yang terlupakan oleh-Nya.
  • Masyi’atullah (Kehendak Allah) dan Qudrat (Kekuasaan Allah)
Seorang mukmin yang telah mengimani qada dan qadar harus mengimani masyi`ah (kehendak Allah) dan kekuasaan-Nya yang menyeluruh. Apapun yang Dia kehendaki pasti terjadi meskipun manusia tidak menginginkannya. Begitu pula sebaliknya, apa pun yang tidak dikehendaki pasti tidak akan terjadi meskipun manusia memohon dan menghendakinya. Hal ini bukan dikarenakan Allah tidak mampu melainkan karena Allah tidak menghendakinya.
  • Penciptaan Allah
Ketika beriman terhadap qada dan qadar, seorang mukmin harus mengimani bahwa Allah-lah pencipta segala sesuatu, tidak ada Khaliq selain-Nya dan tidak ada Rabb semesta alam ini selain Dia.
Inilah empat rukun beriman kepada qada dan qadar yang harus diyakini setiap muslim. Maka, apabila salah satu di antara empat rukun ini diabaikan atau didustakan, niscaya kita tidak akan pernah sampai kepada gerbang keimanan yang sesungguhnya. Sebab, mendustakan rukun-rukun tersebut berarti merusak bangunan iman terhadap qada dan qadar dan ketika bangunan iman itu rusak, maka hal tersebut juga akan menimbulkan kerusakan pada bangunan tauhid itu sendiri.
Ada empat macam takdir, antara lain :
  1. Takdir Umum (Takdir Azali)
Takdir mengenai segala sesuatu yang ditetapkan sebelum penciptaan langit, bumi, dan seluruh isinya.
  1. Takdir Umuri
Takdir yang diberlakukan atas manusia pada masa awal penciptaannya dan bersifat umum. Meliputi rizki, ajal, kebahagiaan, dan kesengsaraan.
  1. Takdir Samawi
Takdir yang dicatat pada malam Lailatul Qadar setiap tahun.
  1. Takdir Yaumi
Takdir yang dikhususkan untuk semua peristiwa yang akan terjadi dalam satu hari, mulai dari penciptaan, rizki, menghidupkan, mematikan, mengampuni dosa, menghilangkan kesusahan, dan sebagainya.
Allah berfirman dalam surat Ar Rad ayat 11 :
Arti : Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa akidah Islam yang terangkum dalam Rukun Iman merupakan landasan bagi setiap umat Islam dalam mempelajari dan mengimplementasikan agama Islam dalam kehidupan sehari-hari.  Selain itu, penerapan akidah yang baik dan benar dapat mendatangkan manfaat bagi kita, misalnya memberikan ketenteraman jiwa, mewujudkan kehidupan yang baik, melahirkan sikap ikhlas dan konsekuen serta dapat meningkatkan ketaqwaan kita terhadap Allah SWT.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Muhammad Daud. 2006. Pendidikan Agama Islam. Jakarta : Raja Grafindo Persada
Azra, Azyumardi, dkk.. 2002. Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum. Jakarta
”Akidah Islam; Akidah Perjuangan dan Perlawanan,” asepfirman1924.blogspot.com, November 2005.
”Beriman kepada Qada dan Qadar,” www.geocities.com.
”Pentingnya Akidah dalam Kehidupan Seorang Insan,” www.muslim5ska.wordpress.com, 15 November 2007.
”Tujuan Akidah Islam,” www.ahmadirfan.wordpress.com, 12 Juli 2007.
merupakan salah satu diantara rahasia Allah yang baru akan terbuka setelah suatu kejadian terjadi. Secara bahasa, qada’ berarti ketetapan atau keputusan, sedangkan secara istilah qada’ adalah ketentuan atau keputusan Allah atas makhluk-Nya yang telah ditetapkan sebelum adanya makhluk itu atau sejak zaman azali dahulu.
Setelah Allah SWT menetapkan sesuatu iradat-Nya maka Allah melaksanakan iradat(kehendak)-Nya itu dalam realita. Pelaksanaan kehendak Allah dalm realita itulah yang kita kenal sebagai qadar. Kata qadar adakalanya kita sebut dengan istilah takdir. Jadi, qada’ adalah ketentuan ALLAH dan qadar atau takdir adalah pelaksanaan dari ketentuan ALLAH itu.

Dalam kehidupan ada dua jenis qadar yang ALLAH SWT terapkan. Qadar yang pertama adalah ukuran yang telah Allah terapkan dalam mekanisme dasar kehidupan di alam ini. Ukuran itu tercipta dengan bentuk kekuatan hukum alam. Qadar dalam arti ini telah menyatu dengan alam sejak awal alam ini diciptakan. Semuanya bergerak dan berinterkasi satu sama lain sesuai dengan ketentuan dan aturan-aturan yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT.
Qadar yang dalam arti yang kedua adalah pelaksanaan ketentuan Allah dalam perjalanan hidup manusia. Kita mneyebut pelaksanaan ini adalah suatu takdir. Takdir ini ditentukan oleh Allah saat manusia masih berada dalam kandungan ibunya. Saat sesosok janin 4bulan, Allah SWT memerintahkan malaikat untuk mencatat 4 hal yang akan terlaksana dalam kehidupan si janin tadi.
Contoh Qada dan qadar adalah sebagai berikut
Saat ini Abdurofi melanjutkan pelajarannya di SMK. Sebelum Abdurofi lahir, bahkan sejak zaman azali Allah telah menetapkan, bahwa seorang anak bernama Abdurofi akan melanjutkan pelajarannya di SMK. Ketetapan Allah di Zaman Azali disebut Qadha. Kenyataan bahwa saat terjadinya disebut qadar atau takdir. Dengan kata lain bahwa qadar adalah perwujudan dari qada










DALIL DALIL

Dalil yang menunjukkan rukun yang agung dari rukun-rukun iman ini ialah al-Qur-an, as-Sunnah, ijma’, fitrah, akal, dan panca indera.

Dalil-Dalil Dari Al-Qur-an
Dalil-dalil dari al-Qur-an sangat banyak, di antaranya firman Allah Azza wa Jalla

"…Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku." [Al-Ahzab:38]

Juga firman-Nya:

"Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran." [Al-Qamar: 49]

Dan juga firman-Nya yang lain:

"Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah kha-zanahnya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu." [Al-Hijr: 21]

Juga firman-Nya:

"Sampai waktu yang ditentukan, lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan." [Al-Mursalaat: 22-23]

Juga firman-Nya yang lain:

"…Kemudian engkau datang menurut waktu yang ditetapkan hai Musa." [Thaahaa: 40]

Dan juga firman-Nya:

"…Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya." [Al-Furqaan: 2]

Dan firman-Nya yang lain:

"Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk." [Al-A’laa: 3]

Firman-Nya yang lain:

“… (Allah mempertemukan kedua pasukan itu) agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan...” [Al-Anfaal: 42]

Serta firman-Nya yang lain :

“Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu, ‘Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali...” [Al-Israa’: 4]

Dalil-Dalil Dari As-Sunnah
Sementara dari sunnah ialah seperti sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang terdapat dalam hadits Jibril Alaihissalam

“…Dan engkau beriman kepada qadar, yang baik maupun yang buruk… .” [1]

Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahiih dari Thawus, dia mengatakan, “Saya mengetahui sejumlah orang dari para Sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan, ‘Segala sesuatu dengan ketentuan takdir.’ Ia melanjutkan, “Dan aku mendengar ‘Abdullah bin ‘Umar mengatakan, ‘Segala sesuatu itu dengan ketentuan takdir hingga kelemahan dan kecerdasan, atau kecerdasan dan kelemahan.’”[2]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“…Jika sesuatu menimpamu, maka janganlah mengatakan, ‘Se-andainya aku melakukannya, niscaya akan demikian dan demikian.’ Tetapi ucapkanlah, ‘Sudah menjadi ketentuan Allah, dan apa yang dikehendakinya pasti terjadi… .’” [3]

Demikianlah (dalil-dalil tersebut), dan akan kita temukan dalam kitab ini dalil-dalil yang banyak dari al-Qur-an dan as-Sunnah, sebagai tambahan atas apa yang telah disebutkan.

Dalil-Dalil Dari Ijma’
Sedangkan menurut Ijma’, maka kaum muslimin telah bersepakat tentang kewajiban beriman kepada qadar, yang baik dan yang buruk, yang berasal dari Allah. An-Nawawi Rahimahullah berkata, “Sudah jelas dalil-dalil yang qath’i dari al-Qur-an, as-Sunnah, ijma’ Sahabat, dan Ahlul Hil wal ‘Aqd dari kalangan salaf dan khalaf tentang ketetapan qadar Allah Azza wa Jalla.” [4]

Ibnu Hajar Rahimahullah berkata, “Sudah menjadi pendapat salaf seluruhnya bahwa seluruh perkara semuanya dengan takdir Allah Ta’ala.” [5]

Dalil-Dalil Dari Fitrah
Adapun berdasarkan fitrah, bahwa iman kepada qadar adalah sesuatu yang telah dimaklumi secara fitrah, baik dahulu maupun sekarang, dan tidak ada yang mengingkarinya kecuali sejumlah kaum musyrikin. Kesalahannya tidak terletak dalam menafikan dan mengingkari qadar, tetapi terletak dalam memahaminya menurut cara yang benar. Karena itu, Allah Azza wa Jalla berfirman tentang kaum musyrikin:

"Orang-orang yang mempersekutukan Allah, akan mengatakan, ‘Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya... .’" [Al-An’aam: 148]

Mereka menetapkan kehendak (masyii-ah) bagi Allah, tetapi mereka berargumen dengannya atas perbuatan syirik. Kemudian Dia menjelaskan bahwa ini merupakan keadaan umat sebelum mereka, dengan firman-Nya:

"… Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para Rasul)… ." [Al-An’aam: 148]

Bangsa ‘Arab di masa Jahiliyyah mengenal takdir dan tidak mengingkarinya, serta di sana tidak ada orang yang berpendapat bahwa suatu perkara itu memang telah ada sebelumnya (terjadi dengan sendirinya, tanpa ada Yang menghendakinya).

Hal ini kita jumpai secara nyata dalam sya’ir-sya’ir mereka, sebagaimana yang disebutkan sebelumnya, dan sebagaimana dalam ucapan ‘Antarah:
Wahai tetumbuhan, ke mana aku akan lari dari kematian
jika Rabb-ku di langit telah menentukannya [6]

Sebagaimana juga ucapan Tharfah bin al-‘Abd:
Seandainya Rabb-ku menghendaki, niscaya aku menjadi Qais bin Khalid
dan sekiranya Rabb-ku menghendaki, niscaya aku menjadi ‘Amr bin Martsad [7]

Suwaid bin Abu Kahil berkata:
Yang Maha Pemurah, dan segala puji untuk-Nya, telah menuliskan
keluasan akhlak pada kami begitu juga kebengkokannya [8]

Al-Mutsaqqib al-‘Abdi berkata:
Aku yakin, jika Rabb menghendaki,
bahwasanya kekuatan dan tujuan-Nya akan sampai kepadaku [9]

RENCANA PELAKSANAAN PMBELAJARAN
(RPP)
Satuan pendidikan : SMP Ali Maksum
Kelas / semester : IX/I (Ganjil)
Mata pelajaran : Pendidikan Agama Islam (PAI)
Pertemuan ke : 2
Waktu : 1 x 15 menit

  1. Standar kompetensi
Memahami ajaran Al-Hadits tentang menuntut ilmu
  1. Kompetensi dasar
Membiaasakan diri untuk selalu menuntut ilmu
  1. Indikator
  1. menjelaskan devinisi tentang menuntut ilmu
  2. menyebutkan hadits menuntut ilmu
  3. menyebutkan hukum menuntut ilmu
  1. Tujuan pembelajaran
Setelah siswa mempelajari tentang menuntut ilmu dengan metode ceramah, tanya jawab dan diskusi serta mengunakan startegi Card Sort, diskusi panel diharapkan siswa dapat menjelaskan devinisi tentang menuntutilmu, menyebutkan hadits menuntut ilmu, dan menyebutkan hukum menuntut ilmu.
  1. Materi ajar
Haditstentangmenuntutilmu
Cakupanmateri :
  1. Makna menuntut ilmu
  2. Hadits tentang menuntut ilmu
  3. Hukum menuntut ilmu
  1. Metode/strategi
Metode : Ceramah, Tanya jawab Dan Diskusi
Startegi : Card Sort, diskusi panel



  1. Langkah-langkah pembelajaran

Langkah-Langkah Pembelajaran
Waktu
Metode
  1. Kegiatan awal
  • Guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam dilanjutkan berdoa
  • Guru memberikan apersepsi
  • Guru menjelaskan tujuan dan kompetensi dasar pembelajaran.
  • Guru mengadakan pre test kepada siswa.
2 menit
Ceramah dan tanya jawab
  1. Kegiatan inti
  1. Eksplorasi
  • Guru menjelaskan proses pembelajaran
  • Siswa mendengarkan uraian guru tentang hadits menuntut ilmu
  • Guru mengajukan beberapa pertanyaan tentang menuntut ilmu
  1. Elaborasi
  • Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok.
  • Siswa diminta mendiskusikan tentang soal yang diberikan oleh guru
  • Guru meminta perwakilan kelompok untuk mempresentasikan dan memberikan pertanyaan kepada kelompok lain.
  1. Konfirmasi
  • Guru memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil diskusi siswa untuk meluruskan esimpulan-kesimpulan yang belum tepat
10 menit
Ceramah dan diskusi

  1. Kegiatan Akhir
  • Guru dan siswa bersama-sama menyimpulkan materi yang telah dipelajari.
  • Guru memberikan tugas kepada siswa merangkum materi yang sudah dijelaskan oleh guru.
  • Guru menyampaikan materi yang akan dibahas pada pertemuan selanjutnya
  • Guru menutup proses pemberlajaran dengan mengucapkan salam dan doa
3 menit
Tanya jawab dan penugasan


  1. Sumber dan media
  1. Sumber :
  • Mell Silberman, 2005. Active Learning. Yogyakarta, Yapendis
  • Imam Al Mundziri, 1994. Ringkasan Hadis Shahih Muslim. Jakarta. Pustaka Amani.
  • M.chizbullah, hadiis Pilihan Riwayat Imam Bukhori dan Imam Muslim, Pekalongan: PT. Rajawali, 1981
  1. Media :
  • Kertas HVS
  • Lembar materi
  • Index card
  1. Penilaiaan
  • Teknikpenilaian
  • Teslisan
  • Non tes : Penugasan
  • Bentuk instrument
  • Teslisan
  1. Sebutkan pengertian menuntut ilmu?
Ilmu dari segi bahasa berarti bijaksana
Ilmu adalah pengetahuan yang jelas tentang sesuatu.
  1. Sebutkan hadits tentang menuntut ilmu beserta artinya?
اُطْلُبُوْا الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ إلَى الْلَحْدِ
Carilah ilmu sejak bayi hingga ke liang lahat.
  1. Apa hukum menuntut ilmu?
Hukum menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلىَ كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ (رواه ابن عبدالبر)
Artinya “ Menuntut ilmu itu wajib bagi tiap-tiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan ” (HR. Ibn Abdul Barr)





  • Pengamatan

No.
Nama Siswa
Aspek yang dinilai
Jumlah skor


Perhatian
keaktifan
tanggungjawab

1.





2.





3.







Mengetahui
Dosen Pembimbing


Dr. Sukiman, S.Ag, M.Ag



Yogyakarta, 20 April2011

Praktikan


Khoirul Mustangin
08410098




























LATIHAN SOAL

  1. Menuntut ilmu itu wajib bagi......
a. Tiap muslim laki-laki dan perempuan b. Semua orang c. Makhluk Allah
  1. Ma’rifat artinya....
a. Mengetahui b. Pengetahuan c. Ketahuilah
  1. Arti dari “اُطْلُبُوْا الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ إلَى الْلَحْدِ .....
a. Carilah ilmu sejak bayi hingga keliang lahat b. Tuntutlah ilmu sampai negeri cina c. Menuntut ilmu itu wajib

  1. Hukum menuntut ilmu adalah
a. Sunah b. Mubah c. Wajib
  1. Mempelajari ilmu tafsir, hadis dan ilmu-ilmu yang lain hukumnya....
a. Wajib kifayah b. Wajib ‘ain c. Sunah
  1. Arti dari “طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلىَ كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ (رواه ابن عبدالبر)
a. mencariilmuituwajibbagitiap-tiapmuslim,baiklaki-lakimaupunperempuan
b. Tuntutlah ilmu sampai negeri cina c. Menuntut ilmu itu wajibbagilaki-laki













RPP AQIDAH AKHLAK KELAS 2 MADRASAH ALIYAH

Nama: Sigit triyono
Kelas: 3 H
NIM: 26.09.3.1.241
PRODI : Tarbiyah /PAI.
IAIN SURAKARTAA


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Sekolah : Madrasah Aliyah Negeri
Mata Pelajaran : Aqidah Akhlak
Kelas/Semester : IX/2
Standar Kompetensi : - Memahami iman kepada Qada dan Qadar
- Memahami perbedaan Qada dan Qadar

Kompetensi Dasar : - Menjelaskan pengertian iman kepada Qada dan Qadar
- Menunjukkan bukti atau dalil kebenaran akan adanya Qada dan Qadar
- Menjelaskan berbagai tanda dan peristiwa yang berhubungan adanya Qada dan Qadar
- Menunjukkan ciri-ciri perilaku orang yang beriman kepada Qada dan Qadar
- Menampilkan perilaku yang mencerminkan keimanan kepada Qada dan Qadar

Indikator : - Siswa diharuskan untuk membaca buku
akidah aklak tentang pengertian Qada dan
Qadar
- Siswa harus bisa mencari dan menulis dalil tantang Qada dan Qadar
- Siswa diharuskan mencari berbagai tanda peristiwa yang berhubungan dengan adanya Qada dan Qadar
- Siswa harus mencari ciri-ciri orang yang beriman kepada Qada dan Qadar
- siswa itu sendiri harus beri contoh perilaku yang mencerminkan keimanan kepada Qada dan Qadar

Alokasi Waktu : 2 jam pelajaran ( 1 x pertemuan )

A. Tujuan Pembelajaran : Siswa dapat :
- Memahami dan dapat menyampaika kepada orang lain apa itu Qada dan Qadar
- Menulis dan menunjukkan dalil kebenaran tentang Qada dan Qadar
- Menunjukkan berbagai tanda peristiwa yang berhubungan dengan Qada dan Qadar
- Memahami dan membuktikan ciri-ciri orang yang beriman kepada Qada dan Qadar
- Siswa dapat berperilaku yang mencerminkan keimanan kepada Qada dan Qadar

B. Materi Pembelajaran : - Membaca dan memahami materi buku akidah aklak mengenai Qada dan Qadar
- Menulis, membaca dan mengartikan dalil-dalil tentang iman kepada Qada dan Qadar
1. Arti harfiah
2. Kandungan dalil-dalil iman kepada Qada dan Qadar
- Menunjukkan berbagai macam tanda-tanda yang berhubungan dengan Qada dan Qadar
- Memberi bukti ciri-ciri orang yang beriman kepada Qada dan Qadar
- Manfaat beriman kepada Qada dan Qadar

C. Metode Pembelajaran : Informasi, diskusi, Tanya jawab dan penugasan
D. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran :
I. Pendahuluan
- Apersepsi :Siswa diingatkan kembali tentang pentingnya memahami iman kepada Qada dan Qadar
- Motivasi : Memotivasi siswa akan pentingnya beriman kepada Qada dan Qadar
II. Kegiatan Inti
- Guru memberi pengertian atau penjelasan mengenai iman kepada Qada dan Qadar
- Guru menuliskan dan mengartikan dalil-dali tentang iman Qada dan Qadar
- Guru memberi contoh tentang kejadian peristiwa tentang Qada dan Qadar
- Guru memberi contoh tentang perilaku,ciri-ciri yang mencerminkan iman kepada Qada dan Qadar
- Guru memberi kesimpulan terhadap siswa mengenai iman kepada Qada dan Qadar
III. Penutup
1. Siswa berdiskusi di bawah bimbingan guru
2. Guru memberikan PR Atau tugas

E. Alat dan sumber belajar : Spidol, papan tulis, Buku paket, buku referensi, buku LKS, Al-Qur’an
F. Penilaian :
1. Teknik
2. Bentuk/instrumen : tertulis
3. Soal/instrumen:

1. Apa pengertian dari iman,Qada dan Qadar itu? jelaskan
2. Apa fungsi beriman kepada Qada dan Qadar dalam kehidupan sehari-hari…?
3. Sebutkan ciri-ciri dari beriman kepada Qada dan Qadar….?
4. Sebutkan tanda-tanda orang yang beriman kepada Qada dan Qadar
5.Dalam dalil kebenaran adanya Qada dan Qadar, takdir terbagi menjadi 2 bagian,sebutkan dan jelaskan….?
6. Sebutkan contoh takdir mu’allaq ?
7. Sebutkan contoh takdir mubram?
8. Tulislah ( Q.S.Ar-Ra’DU,13:11) sekalian artinya!
9. Tuliskan firman allah dalam Q.S.AN-Najm,53:39-40 yang menjelaskan tentang ber ikhtiar!beserta artinya…!
10. Tuliskan firman Allah dalam Q.S.Al-Fajr ayat 27-30 mengenai ketenangan jiwa!beserta artinya…!

Kunci Jawaban:

1. Iman: keyakinan yang di yakini dalam hati, di ucapkan dengan lisan, dan dilaksanakan dengan amal perbuatan.
Qada: ketetapan
Qadar: ukuran
2. -mempunyai semangat ikhtiyar
-mempunyai sikap sabar dalam menghadapi cobaan
-sabar bahwa cobaan Qada dan Qadar dari Allah SWT
3.
a) qana’ah dan kemuliyaan diri
b) cita-cita yang tinggi
c) bertekad dan bersungguh-sungguh dalam berbagai hal
d) bersikap adil, baik pada saat senang maupun susah
e) selamat dari kedengkian dan penentangan
4.
a) banyak bersukur dan bersabar
b) menjauhkan diri dari sifat sombong dan putus asa
c) bersifat optimis dan giat bekerja
d) jiwanya tenang


5. 1. Takdir mu’allaq: takdir Allah yang masih dapat di usahakan kejadiannya oleh manusia.
2. Takdir mubram: takdir Allah yang pasti terjadi dan tidak dapat di elakkan kejadiannya

6. Contoh takdir mu’allaq:
• bumi berputar pada porosnya 24 jam sehari,
• bersama bulan,bumi mengelilingi matahari -+365 hari setahun
• bulan mengitari bumi setahun 365 sehari,dll

7. contoh takdir mubram: nasib manusia, lahir, kematian, jodoh dan riskinya, terjadi kiamat dan sebagainya.
8.
                 •         
artinya. …………Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaanyang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

9.
       •    
Artinya: Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya).



10.

 • •      •       • 

Artinya: Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku,Masuklah ke dalam syurga-Ku.


Pedoman penskoran instrumen/soal: Satu soal jika dijawab benar skor 10.
Perhitungan nilai akhir dalam skala 0 – 100 sebagai berikut:
Nilai akhir = x skor ideal (100)

48
RPP Teladan Utama PAI SMP 3
8. Siswa dapat menyebutkan contoh-contoh qada dan qadar, seperti yang
disebutkan dalam Al-Qur’an.
9. Siswa dapat menyebutkan contoh-contoh qada dan qadar, baik yang
pernah kita alami maupun yang belum.
10. Siswa dapat menunjukkan beberapa ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan
dengan qada dan qadar.
11. Siswa dapat mengartikan dan menyimpulkan ayat-ayat Al-Qur’an yang
terkait dengan qada dan qadar.
I V.
Materi Ajar
Iman kepada qada dan qadar
V.
Metode Pembelajaran
1. Inormasi dan inkuiri
2. Diskusi dan tanya jawab
VI.
Sumber Belajar
1. Buku Teladan Utama PAI kelas IX terbitan PT. Tiga Serangkai Pustaka
Mandiri, Solo.
2. Sumber lain yang relevan
VII. Langkah-Langkah Pembelajaran
A. Kegiatan Awal (Apersepsi)
1. Guru memberi salam dan memulai pelajaran dengan membaca
basmalah dan doa.
2. Guru memimpin tadarus bersama selama 5–10 menit dengan mem-
buka Al-Qur’an atau halaman tadarus pada buku Teladan Utama PAI
untuk kelas IX terbitan PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, Solo.
3. Guru menjelaskan secara singkat materi yang akan dipelajari dan
kompetensi dasarnya.
4. Guru menjelaskan secara singkat langkah-langkah pembelajaran
yang akan dilaksanakan.
B. Kegiatan Inti
1. Guru menjelaskan materi tentang iman kepada qada dan qadar. Untuk mendukung penjelasan tersebut, guru dapat menggunakan tayangan VCD atau LCD.
2. Siswa mendiskusikan materi yang disampaikan.
3. Guru menunjuk salah satu siswa untuk mengulangi penjelasan ma-
teri yang telah disampaikan.
4. Guru menjelaskan materi tentang contoh-contoh qada dan qadar.
5. Siswa mendiskusikan materi yang dibahas.

6. Guru menunjuk siswa untuk mengulangi materi yang telah dijelaskan.

49
RPP Teladan Utama PAI SMP 3
C. Kegiatan Penutup
1. Siswa membuat kesimpulan tentang pengertian iman kepada qada dan qadar, ciri-ciri orang yang beriman kepada qada dan qadar, serta perbedaan dan hubungan antara qada dan qadar.
2. Guru meminta siswa mengulangi pelajaran di rumah masing-ma-
sing.
3. Guru menutup pelajaran dengan membaca hamdalah dan doa ber-
sama.
VIII. Penilaian
A. Tes Lisan
1. Siswa disuruh menjelaskan pengertian iman kepada qada dan qadar.
2. Siswa diminta untuk menyebutkan contoh-contoh qada dan qadar.
B. Tes Tertulis
Guru memberikan beberapa soal tertulis yang sesuai dengan kemampu-
an siswa. Bentuk soal berbentuk isian atau penulisan opini.
C. Tes Perbuatan
1. Siswa diminta untuk membaca dalil naqli tentang qada dan qadar
beberapa kali sampai haal.
2. Siswa diajak membaca dalil naqli tentang qada dan qadar berkali-
kali.
.........., ........................
Mengetahui,
Kepala Sekolah
Guru Pendidikan Agama Islam
......................................
......................................
NIP.
NIP.
Kunci Bab 10 (Iman kepada Qada dan Qadar)
A. Pilihan Ganda
1. a
6. a
11. a
2. d
7. c
12. b
3. d
8. b
13. b
4. b
9. b
14. a
5. d
10. a
15. a

50
RPP Teladan Utama PAI SMP 3
B. Isian
1. Qada menurut bahasa adalah hukum, ketetapan, perintah, kehendak,
pemberitahuan, dan penciptaan. Menurut istilah, qada adalah ketetapan atau ketentuan dari Allah sejak zaman azali mengenai segala sesuatu yang berkenaan dengan makhluknya, sesuai dengan kehendak-Nya, meliputi baik buruk, hidup mati, dan seterusnya.
2. Qadar adalah perwujudan ketetapan (qada) terhadap segala sesuatu yang berkenaan dengan makhluknya dan telah ada sejak zaman azali sesuai dengan iradah-Nya.
3. Ada dua takdir, yaitu takdir mubram dan mu›allaq. Takdir mubram adalah ketentuan Allah yang mesti berlaku atas diri setiap manusia, tanpa dapat dielakkan atau ditawar-tawar lagi. Contohnya: kematian
seseorang, datangnya hari kiamat, jenis kelamin bayi yang akan lahir,
siapa jodoh seseorang, dan berapa tahun usia seseorang.
Takdir mu›allaq adalah ketentuan Allah yang mungkin dapat diubah manusia melalui usaha atau ikhtiar jika Allah mengizinkan. Contohnya: untuk menjadi pandai, kita harus belajar secara tekun dan sungguh- sungguh; untuk menjadi kaya, kita harus rajin bekerja dan berusaha dengan keras
4. Ikhtiar adalah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencapai apa
yang dicita-citakan.
Tawakal adalah berserah diri kepada Allah setelah didahului dengan
ikhtiar atau usaha.
5.Úäsã=çmlãgç]oiè&aòvã kbBZmãò vpL<vãðÖç~ Jio iåäIãäi
ÙÙ áÜÞ 9}9<ãÛ9RB} ê ã2Q ce:lã
6. Ciri-ciri beriman kepada qada dan qadar adalah
a. tidak bersikap sombong ketika mencapai kesuksesan,
b. tidak mudah putus asa,

c. yakin bahwa kesuksesan itu semata-mata atas pemberian Allah swt., dan
d. sabar ketika menerima musibah.
7. Hubungan antara qada dan qadar sangat erat. Qadar merupakan pelaksanaan
daripada qada.
8. Ikhtiar itu hukumnya wajib bagi manusia. Adapun soal kebahagiaan
berada di tangan Allah swt.
9. Tawakal baru dilakukan setelah didahului ikhtiar. Jika ikhtiar manusia
tidak berhasil maka harus bertawakal kepada Allah swt.
10. Qada adalah ketentuan Allah yang belum terjadi pada makhluk, sedangkan
qadar adalah ketentuan Allah yang sudah terjadi pada makhluk